Games

Monday, 7 November 2016

SiVION : Tanda Tangan Digital

Perkembangan teknologi informasi berkembang sangat pesat, berbagai bidang kini dapat di akses melalui teknologi yang yang canggih dimasa kini, teknologi masa kini ini menjadi trend dalam melakukan berbagai aktifitas sehari-hari atau lebih sering dikenal dengan sapaan si "internet".

Internet ini tidak asing lagi terdengar di telinga kita sejak abad 20, ia tumbuh dan berkembang dengan begitu cepat. Ia menawarkan berbagai kemudahan dalam mengerjakan sebuah pekerjaan individu ataupun sekolompok individu. Selain itu, cara mengoperasikan si "internet" ini sangat mudah, kalau dahulu hanya mampu dioperasikan melalui komputer, sekarang si internet ini dapat di operasikan melalui telepon pintar yang bisa dibawa kemana-mana.

Salah satu permasalahan yang sering menghambat pekerjaan atau berkas administrasi lainnya adalah tanda tangan.
Tanda tangan ini sering dikeluhkan oleh individu yang membutuhkannya, contoh kasus, misalnya seorang mahasiswa yang ingin ujian akhir/skripsi untuk mendapat gelar sarjana butuh banyak tanda tangan, dari guru pembimbing, ketua prodi, ketua jurusan dan penguji yang bersedia menjadi penguji di ujian akhir nantinya.

Mahasiswa ini setiap hari di pagi hari datang ke kampus dengan niat mendapat tanda tangan dari dosennya yang untuk mengikuti ujian akhir, namun dosennya ini tengah sibuk dengan berbagai urusan. Anggaplah dosennya tengah mengikuti pengabdian masyarakat di luar daerah yang jauh dari kampus. Oleh karena itu, mahasiswa ini harus pulang dan menunggu dosennya kembali, padahal rencana untuk ujian akhir sudah tersusun dengan sangat baik, sebelum dan setelah ujian akhir telah dibuat daftar-daftar yang akan dilakukannnya.

Namun, karena terkendala "tanda tangan" maka semua jadwal yang telah disusun berantakan tidak sesuai dengan harapan. Contoh kasus ini adalah contoh kecil dalam permasalahan dalam dunia kampus, bagaimana dengan dunia pemerintahan? Kesehatan? Dan sebagainya.

Nah, sekarang pemerintah melirik permasalahan ini sebagai permasalan yang cukup penting. Hari ini (08/11/16) tepatnya di Grand Clarion Makassar, KOMINFO menyuarakan tentang tanda tangan yang sifatnya dapat diakses dan diverifikasi di SiVION (Sistem Verifikasi Identitas Online Nasional) yang di sebut "Tanda Tangan Digital". Untuk daftar tanda tangan digital silahkan klik disini.

Tanda tangan digital ini dapat memecahakam permasalahan yang dialami mahasiswa diatas, jika saja dosennya sedang berada di luar daerah maka tanda tangannya dapat dilakukan secara online walaupun dari jarak yang berjauhan.

Tanda tangan digital ini menurut saya meruapakan sebuah generasi teknologi informasi yang cukup bagus dan sangat dibutuhkan masyarakat dalam mengembangkan dan mempermudah berbagai pekerjaan administratif.

Jadi? Sekarang sisa bagaimana kita menjadi pengguna teknologi informasi yang baik dan sehat, menggunakan IT untuk kepentingan dan kemaslahatan orang banyak.

Sebab, dunia IT sangat besar dan luas sehingga akan sangat tinggi peluang terjadinya kejahatan dalam dunia teknologi informasi.

Ayo, sekarang siapa saja bisa dapatkan tanda tangan digital dengan mengakses dan mendaftar disini

Seminar Tanda Tangan Digital oleh KOMINFO
08 November 2016

Sunday, 30 October 2016

Ini Tentang Seorang Gadis

Entah baru kali ini kumendapatinya dengan tingkah yang begitu aneh, seadanya, seolah tidak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi. Padahal ini belum masuk tahap dimana mereka saling bersua, memahami atau mungkin saling mengerti untuk waktu tidak seperti biasanya.
Tetapi, ia membuang harapan itu jauh, jauh dari pandangan yang sebenarnya. Jauh dari i'tikad baik, jauh dari harapan yang indah, Ia hilangkan dan egois dengan pemikirannya sendiri, bertahan dengan persepsinya, seolah semua yang ia pikirkan itulah kebenaran sejati.
Ia mulai mendengar bisikan-bisikan aneh, bisikan tentang bagaimana laki-laki itu, tentang apa yang telah di lakukan laki-laki itu, yah semua terlintas di benaknya, tentang masa lalu laki-laki itu.
Kiri kanan, semua tatapan, suara-suara akan kepastian yang semakin menusuk, bahwa laki-laki itu tidak benar, tidak lantas untuk berada di sampingnya, bersamanya apalagi menjaganya.
Lelaki itu sekarang tidak ada baiknya di pandangannya, dia sama seperti laki-laki lainnya, dia tak pantas untuknya. Gadis itu merintih, merintih dalam hati.
"Semua yang kulihat selama ini hanya kacamata indah yang tertutupi kebusukan, namun iya teramu dengan begitu manisnya" gadis itu semakin menjadi-jadi. Berpikir dengan apa yang dilihatnya, apa yang didengarnya.
Tidak lagi memberi ruang untuk laki-laki itu, namun semakin Ia mengingat semakin Ia merasa dan penasaran, apa sebenarnya yang terjadi? Apakah di dunia ini semua laki-laki seperti itu?
Segudang pertanyaan datang dari berbagai bilik, bahkan bilik tetangga pun mulai mempengaruhi pikirannya, mempengaruhi kalau laki-laki itu benar-benar tidak seperti yang di bayangkannya.
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul, hingga waktunya tiba. Gadis itu mulai menyusun rencana untuk menjauh, menjauh dari laki-laki itu. Melupakan perasaannnya, menghilangkan cintanya, hingga berusaha mencari yang lebih pantas untuknya.
Namun, siapa sangka di balik semua yang terjadi pada laki-laki itu, gadis itu ternyata belum paham, siapa sebenarnya laki-laki itu.
Dia, laki-laki itu ternyata penuh dengan sesuatu yang sangat sulit dipahami, laki-laki itu sebenarnya tau apa yang dilakukannya. Namun, demi mencari "keaslian cinta" dia rela berbuat apa saja, mengorbankan segalanya, bahkan niat baiknya pun tertutupi oleh penjelasan-penjelasan orang bodoh, orang yang sebenarnya sangat menyukainya, namun tidak mendapat respon baik, hingga menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan laki-laki itu.
Laki-laki itu sungguh malang, dia harus berjuang sendiri mencari "tahta kasih sayang yang sebenarnya" . Sehingga tidak salah, kdangkala sebagian lelaki menganggap bahwa mahluk yang bernama perempuan, jenis kelamin gadis itu, memang selalu ingin di perjuangkan, selalu ingin di maha-kan, selalu ingin maunya diatas segalanya, yang dipikirkan dan dilihatnya itulah yang "sebenarnya"
Perempuan memang sulit dipahami, kata laki-laki itu dalam hati.
Perempuan ingin semuanya berjalan baik, sempurna, sesuai rencanya. Sehingga Ia kadang lupa, bahwa sesuatu yang sifatnya sejati tidak mudah didapatkan. Sesuatu yang sifatnya indah kelak sangat sulit untuk di perjuangkan, Ia tidak akan datang sendiri, Ia perlu di usahakan untuk di nikmati kelak.
Gadis itu, bingung. Apa yang harus dilakukannya, membuktikan apa yang dilihat dan dengarnya? Iya, tapi kadangkala hatinya menolak untuk bertanya. Benar kata laki-laki itu, perempuan sangat gengsi, gengsi bertanya, gengsi transparansi dalam hal perasaan dan gensi dalam memperjuangkan mimpinya.
Yah walaupun hanya sebagian perempuan, tapi pada dasarnya sifat perempuan seperti itu. Analisis laki-laki itu.
Laki-laki kadang menunggu untuk sesuatu yang tidak pasti, sama halnya laki-laki itu Ia mulai bingung apa yang terjadi pada dirinya?
Apakah ini hukuman atas respon ke seseorang yang minim, cuek? Ataukah laki-laki itu sombong lalu banyak yang membencinya? Hem--ataukah mungkin juga memang perempuan itu yang tidak ingin melihat laki-laki baik.
Entahlah, tapi yang kutau laki-laki itu optimis dan ramah pada siapa saja. Sehingga kadangkala keramahannya disalah artikan seorang perempuan, dan siapa sangka perempuan itu membencinya lalu ingin melihat laki-laki jatuh dengan sejatuh-jatuhnya.
Semoga, ketika ada hal yang kurang jelas baiknya di perjelas, sumber yang valid datangnya dari sumber utama. Bukan kedua, apalagi yang ketiga. Seorang wartawan akan mengidentifikasi masalah sampai keakar-akarnya hingga menerbitkan sebuah berita yang orisinil tanpa gangguan "politik".
Hidup ini tentang tidak "kegensian", tetapi tentang pencapaian, pencapaian akan semua mimpi.
Untuk itu, sangat sulit mendapatkan cinta sejati, sebab untuk meraih predikat "sejati". Tantangan dan rintang yang begitu banyak harus terlewati dengan keringat dan air mata.
Maka, cinta sejati dari dulu sampai sekarang hanya milik "Romeo and Juliet"
Jika memahaminya masih sangat standar...
Perlu pendewasaan yang cukup untuk mendekatinya.
!!!

Saturday, 29 October 2016

Perasaan? Aku Padamu

Bercerita tentang perasaan, bercerita tentang sesuatu yang kadangkala menyakitkan dan kadangkala juga sebagai penawar kesakitan. Ia seperti sesuatu yang yang berbentuk namun sulit untuk di jelaskan bentuknya, sulit untuk diukur dan tidak akan mungkin untuk dilihat.

Ia membuatku bingung, perasaan itu kadangkala timbul untuk hanya sekedar menyapa, lalu ia redup dan aku tak mampu menganalogikannya lagi. Ia begitu sederhana menurutku, sesuatu yang cukup di ucapkan, dan - selesai. Tapi rupanya ia tak sesederhana itu, ia menyimpan banyak rahasia, rahasia tentang rasa.

Perasaan? Ia aku makin bingung jika harus memaknainya dan menjelaskan itu padamu, sebab aku tak mampu mendefenisikannya sesuai, seperti persis yang kamu mau.

Perasaan? Iya benar.. Ia ada. Tapi kuanggap ia sebagai pelengkap hidup dan anugerah yang diberikan tuhan. Ia begitu sempurna menurutku, membuatku tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti apa yang ia inginkan.

Tetapi,
Sesekali "perasaan" ini menjadikan semuanya indah, lebih indah dari kisah hidup manapun. Sebab ia menawarkan tentang kebahagian yang panjang, kebahagiaan yang hakiki dan tentang masa depan.

Perasaan, ia adalah aktor dalam kisah hidupku ini. Ia adalah pemeran utama, ia adalah titik kesuksesan untuk menentukan kemana "rasa" ini akan berlabuh. Ia adalah segalanya, seringkali kuberitahukan pada siapapum yang dekat denganku. Bahwa "perasaan"ku tidak lebih jauh, tidak lebih baik, dan tidak lebih buruk dari apa yang kamu rasakan.

Sebab ia "perasaan" ini tercipta dari apa yang kupikir dan selalu kupikirkan. Hingga ia membentuk bagian-bagian pikiran menjadi bagian yang lebih besar bahkan sulit terkontrol. Dan inilah yang ku sebut "Rasa Kepadamu".

Rasa Kepadamu? Wkwkw

Aku Padamu "Kata Ungu".

Senyuman-Mu, Manis!

Rupanya dia sangat menyukainya, dia sangat menginginkan ini terjadi, dia bahkan berangan-angan untuk sesuatu yang lebih jauh dari apa yang tengah terjadi. Ia nampak menikmatinya, ia tersenyum dan tertawa bahagia karena semuanya telah terjadi.
Dia menikmati setiap tetesan hujan yang jatuh di atap cafe itu, bahkan sesekali tetesan hujan itu masuk dan membasahi sudut-sudut cafe yang tak beratap. Cuaca kali ini rupanya memang agak bersahabat bagi para penjual mantel hujan, tentu penjual mantel sangat senang, siapa sangka mantelnya habis terjual dalam waktu sesingkat itu.
Yah sama halnya sesingkat pertemuan kita, tak perlu waktu lama untuk untuk menunggu dan saling terpisah, terpisah oleh jarak, waktu dan ruang yang berbeda. Kamu dengan duniamu dan aku dengan duniaku, Tapi entah apa yang kualami sekarang apakah mampu mempertemukan kita kelak? Yah harapku secepatnya kita bisa bertemu untuk waktu yang lebih lama.
Kamu dengan senyummu, senyum khas yang baru kutemui beberpa hari ini, sungguh indah. Telah lamu aku ingin menafsirkan identitas senyummu itu, namun semakin lama ku tatap semakin aku tak mampu menafsirkannya. Hingga ujung dari penafsiranku hanya membuat ku tersenyum akan anugerah tuhan yang dititipkan padamu.
Aku tak mampu lagi berkata-kata indah seperti dulu, mugkin kata-kata indah ku telah di rebut oleh orang lain. Tapi, jangan khawatir aku bahkan tau bagaimana berbuat yang lebih indah dari kata-kata indahku dulu. Kini aku pupus oleh teori, mungkin saatnya praktek, praktek terhadap apa yang "kita" rasakan.
Yah "kita" hanya butuh waktu untuk saling bersua lebih lama, sebab tidak ada keindahan diatasnya selain melihat senyum manismu dalam jarak 30 CM, yang mana hanya gelas dan gelasmu yang memisahkan kita.
Jadi?  Gimana menurutmu? Apakah kita harus seperti ini?  Atau kita saling memberi ruang untuk bersua lebih lama. Lebih lama dari pertemuan awal kita [kala itu ketika hujan turun].
..........
•○●
See u
Malam Minggu-erss

Tuesday, 25 October 2016

Entah, mungkin inilah yang namanya "Bersua dalam Sunyi "

Usahaku untuk mendekatinya, rupanya sangat tidak sia-sia. Aku bahkan tak mampu memahami diriku sendiri atas apa  yang telah aku  lakukan, aku merenungi keadaanku. Bertanya pada diriku sendiri, apa yang sedang kamu tulis? Apa yang sedang kamu kerjakan? Apakah aku baik-baik saja? Hem entahlah aku masih tidak percaya, waktu begitu cepat sehingga "kita tak sempat" bersua lebih lama seperti halnya kencan pertama bagi mereka pemilik pertemuan. [Awal]
Semenjak melihatnya, aku selalu berpikir "tuhan begitu adil" memberiku sosok untuk kembali tersenyum, memberiku alasan untuk tersenyum lebih lama dari biasanya. Yah, walaupun itu kadangkala menjadi bahan candaan "kita". Senyum, sok-sok saling tidak mengerti, namun diam-diam "saling memperhatikan".
Seolah saling cuek, tapi "hati" mengatakan aku butuh kamu. Butuh perhatian darimu. Ingin bersua untuk waktu yang lebih lama, lebih lama dari pertemuan awal kita.
Tapi,
Apa mungkin cuma aku yang merasakan ini, selalu ingin ada didekatmu? Selalu ingin mendengar kabarmu? Dan, selalu ingin bertemu denganmu?
"Semoga kamu juga.!!!" Harapku dalam hati.
Ku susun dan kupikirkan kata-kata terbaik yang membuatmu nyaman padaku, tak peduli siapa yang akan membacanya dan siapa yang akan tau maknanya. Sebab aku bahagia, menuliskan apa yang kurasakan dan memberitahukan itu padamu. [Semoga saja]
Seringkali, ketika berusaha lebih dalam memasuki duniamu, kadang ada rasa takut, takut kamu tidak percaya dengan "apa yang kamu pikirkan" dan juga "apa yang kupikirkan". Takut berbuat lebih banyak dari hanya sekedar •sebagai seorang kakak. Takut kamu berpikir hal-hal tentang duniaku, tentang masa yang telah kulalui.
Iya, itu adalah ketakutanku, sebab aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskan padamu "bahwa inilah yang sebenarnya tengah kurasakan". Sangat malu, malu untuk bersua dalam keramain dengan posisiku yang tak punya apa-apa untuk kau dambakan dan kau ceritakan ke teman-teman mu kelak. Yah -__- aku tidaaak lebih dari seorang manusia yang tidak tau apa-apa tentang makna kehidupan. Apalagi tentang perasaan -__-
Namun, semakin dalam aku merasakan ketakutan ini, rupanya benar apa yang ku prediksi benar terjadi. "Kamu" bahkan menganggap apa yang aku lakukan terhadapmu hanya karena kewajibanku semata sebagai seorang yang lebih tau secara teori, tidak lebih. iya benar. Kamu bahkan tidak pernah memperlihatkan dari sudut pandang "rasa" akan apa yang tengah kau pikirkan.
Kamu diam-diam, dan aku merasa diammu itu memiliki makna dan membuatku sulit untuk memahaminya.
Entahlah, aku kurang paham tentang "memahami" atau aku yang kurang "peka" terhadapmu? Ataukah aku terlalu sibuk dengan duniaku -___-
Mungkin, hanya tuhan yang tau masing-masing dari apa yang kita rasakan.
Semoga selalu yang terbaik "buat kita"
Aku bahkan selalu teringat kisah romantis "Habibie dan Ainun" ketika menatap wajahmu di layar smartpone-ku. Aku tak sanggup untuk mengatakan semua yang tengah kuhadapi, walau ku tau perlahan-lahan kamu sebenarnya tau akan diriku.
Aku takut terlalu asik dengan duniaku, sehingga mengabaikan apa yang akan menjadi tanggung jawabku, walau hanya seorang "kakak" yang kadang-kadang sedikit nyeleneh bahwa "kita seumuran" hemm ----
Iyaaa, kamu terlalu manis jika kutatap terlalu lamaaaaa.
Kamu memiliki aura yang berbeda, senyummu seolah berkata "bidadari itu tidak lebih manis dari aku"
Kamu punya karakter yang selalu optimis tentang pencapaian sebuah tanggung jawab.
Kamu orang yang selalu ingin membuatku tersenyum saat berangan-angan tentang masa depan yang lebih jauh.
Kamukah orang yang aku cari?
Kamukah bidadari yang sesungguhnya?
Aku akan mecari jawabannya sendiri "jika pintu rumahmu kamu buka". Hihi
Kumohon biarkan aku masuk, sebagai orang yang egois yang ingin tau kamu lebih dalam.
Yah sebut saja,...
Aku terlalu lebay untuk menyimpulkan bahwa "kita" adalah sebuah masa depan yang terangkai dengan baik.
Kita adalah sepasan insan yang saling berteriak di kesunyian. Yang mana hanya orang terdekat kita yang tau.
Yah, setiap perbuatan, pasti akan berdampak. Apalagi jika itu tentang sebuah perasaan. Yakin "kita" akan merasakannya, walau selihai apapun kamu menyembunyikannya.
Tetap akan terlihat, begitupun dengan aku -__-
Semakin lama, semakin panjang tulisanku ini. Tapi aku belum juga paham alur yang kutuliskan ini, semoga aku yang tidak mengerti ini. Bisa kau beri pengertian tentang makna diriku "BERSUA DALAM SUNYI".
Sebab, itulah aku. "kurang peka". Kata orang dan mungkin juga kata kamu.
Tapi, terlepas dari "kurang pekanya" diriku.
Aku ingin kau tau. Bahwa semua orang memiliki aktifitas, pekerjaan, kesibukan dan kisah cinta yang berbeda-beda. Namun, ada satu yang "sama", semua orang berhak untuk mendapatkan apa yang iya inginkan.
Mencintai dan dicintai "itu" tentang perasaan.
Memiliki dan dimiliki "itu" tentang cinta.
Dan, saling bersua untuk memahami masing-masing "itulah" kepemilikan sejati yabg sesungguhnya.
Seperti halnya kata Habibie ke Ainun.
"
Ainun...
Masa lalumu adalah milikmu,
Masa laluku adalah milikku,
Tetapi masa depan adalah milik kita.
"
Semoga aku tidak salah kutip, sebab kesalahan adalah milikku yang tidak akan kuulangi dua kali.
Kalau diulangi dua kali, apalagi di tambah itu mah jargonnya pak walikota .wkwkwkw
"Makassar 2 × + Baik"
"Ingin melihatmu lebih lama - atur waktumu"
00:44 wita.
~Yaya Nouht

Random News

Powered by Blogger.

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Sub menu section

Find Us On Facebook

Video Of Day

Text Widget

Contact Us

Name

Email *

Message *

Followers

Follow Me

Follow Us

Flickr Images

Page

 

© 2013 Yaya Nouht. All rights resevered. Designed by Templateism | Blogger Templates

Back To Top